Saturday, November 29, 2025

Penerapan SDG 2 melalui Aksi Berbagi untuk Mengurangi Kelaparan pada Masyarakat yang Membutuhkan di Sekitar Kampus

Universitas Negeri Yogyakarta, Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini melalui mata kuliah Pendidikan dan Pembangunan Berkelanjutan melaksanakan program “Aksi Berbagi Nasi untuk Masyarakat yang Membutuhkan” pada Rabu, 19 November 2025 di lingkungan sekitar Kampus Universitas Negeri Yogyakarta, Jalan Gejayan, Depok, Sleman. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian sosial mahasiswa serta memperkuat kesadaran mengenai pentingnya pemenuhan kebutuhan pangan bagi kelompok rentan di sekitar lingkungan kampus. Program ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), yang berfokus pada upaya mengurangi kerentanan pangan serta memastikan bahwa setiap orang memiliki akses terhadap makanan yang layak. Melalui aksi sederhana namun bermakna ini, mahasiswa diajarkan untuk memahami bahwa isu kelaparan tidak hanya terjadi di wilayah terpencil, tetapi dapat ditemui di lingkungan terdekat.

Sebagai wujud komitmen terhadap SDG 2, program ini mengangkat tema “Berbagi untuk Mengurangi Kelaparan di Lingkungan Sekitar” dengan sasaran masyarakat rentan yang ditemui di area sekitar Kampus UNY dan Jalan Gejayan. Program ini dilaksanakan oleh mahasiswa PG-PAUD UNY kelas A kelompok 1 yang bertugas menyiapkan seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari penggalangan dana internal, pembelian nasi box, pembagian peran, hingga pendistribusian makanan kepada penerima manfaat. Para mahasiswa sebelumnya mengikuti briefing singkat untuk memastikan kegiatan berjalan tertib, sopan, dan tetap menghormati martabat penerima bantuan. Aksi berbagi dilakukan dengan menyusuri area kampus dan sekitarnya menggunakan motor untuk mencari individu yang terlihat membutuhkan, seperti pekerja harian, pemulung, dan masyarakat rentan lainnya.

Konten kegiatan ini berawal dari pemahaman bahwa pemenuhan kebutuhan pangan merupakan bagian mendasar dari kualitas hidup manusia. Menurut penelitian, ketahanan pangan tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan makanan, tetapi juga oleh tingkat kerentanan sosial, mobilitas ekonomi, dan keterjangkauan pangan di lingkungan perkotaan (Ariani & Suryana, 2023). Realitas ini tercermin dari observasi mahasiswa selama kegiatan, di mana beberapa penerima manfaat ditemukan masih mengalami keterbatasan akses terhadap makanan layak setiap harinya. Melalui aksi berbagi ini, mahasiswa tidak hanya memberikan bantuan langsung dalam bentuk 10 nasi box, tetapi juga belajar mengembangkan empati, kepekaan sosial, dan kemampuan melihat isu ketidakadilan pangan secara lebih dekat. “Aksi berbagi seperti ini mengingatkan kami bahwa masih banyak orang yang membutuhkan bantuan sederhana seperti makanan. Harapannya, kegiatan ini bisa menggerakkan lebih banyak mahasiswa untuk peduli serta memahami pentingnya mendukung SDG 2 sebagai upaya mengurangi kelaparan di lingkungan sekitar,” ujar Salma Azkiya, perwakilan mahasiswa PG-PAUD.

Program ini memberikan hasil positif, baik bagi penerima manfaat maupun bagi mahasiswa. Bagi masyarakat, aksi ini memberikan bantuan pangan langsung yang dapat membantu memenuhi kebutuhan makan sesaat. Sementara bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi media pembelajaran nyata mengenai pentingnya solidaritas sosial, literasi kemanusiaan, serta tanggung jawab moral dalam mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan. Program ini sejalan dengan prinsip SDG 2 yang menekankan pentingnya mengurangi kelaparan, meningkatkan ketahanan pangan, dan memastikan akses terhadap makanan bagi semua orang tanpa terkecuali.

Pelaksanaan program ini menjadi bukti nyata bahwa Universitas Negeri Yogyakarta terus berupaya mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan melalui keterlibatan mahasiswa secara langsung di masyarakat. Kegiatan edukatif seperti ini diharapkan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan diperluas cakupannya, sehingga nilai kepedulian, empati, dan perilaku berbagi dapat tertanam semakin kuat di kalangan mahasiswa. Harapannya, kolaborasi antara kampus, masyarakat sekitar, dan berbagai pihak lainnya dapat terus diperkuat agar upaya mencapai SDG 2 dapat berjalan optimal serta memberikan dampak jangka panjang bagi kesejahteraan sosial dan kemanusiaan.


Gambar 1. Menyalurkan Nasi Kotak kepada Masyarakat yang Membutuhkan


Gambar 2. Menyalurkan Nasi Kotak kepada Masyarakat yang Membutuhkan


Gambar 3. Menyalurkan Nasi Kotak kepada Masyarakat yang Membutuhkan

Gambar 4. Menyalurkan Nasi Kotak kepada Masyarakat yang Membutuhkan


Domumentasi pelaksanaan kegiatan ini dapat diakses melalui link YouTube berikut:

https://youtu.be/3Uplh2h_Qqk?si=fo57eO1We3kFA54O 

Tuesday, October 7, 2025

Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan Pada Anak Usia Dini

 Oleh Shilfa Amalia Putri


  Pendidikan kewarganegaraan sering sekali dianggap sebagai mata pelajaran yang hanya relevan di ajarkan pada anak tingkat dasar hingga menengah. Tetapi menurut pendapat saya, pendidikan kewarga negaraan justru sangat penting di mulai sejak anak usia dini untuk mendukung perkembanganya. Walaupun anak belum mengerti soal politik, hukum, atau pemerintahan, tetapi mereka sudah mulai belajar bagaimana bersikap, berperilaku, dan berintegritas dengan orang lain. Karena masa tersebut adalah periode emas bagi anak dalam membentuk kepribadian, nilai, dan karakter anak. Maka dari itu, mengenalkan nilai-nilai dasar kewarganegaraan sangat penting di mulai dari anak usian dini. 

       Pendidikan kewarganegaraan bagi anak usia dini bukan berati kita mengajarkan teori politik atau sistem pemerintahan, tetapi kita mengajarkan nilai-nilai kehidupan bermasyarakat, seperti belajar jujur, tanggung jawab, tolong-menolong, disiplin dan mencitai tanah air. Mengajarinyapun dengan kegiatan yang menyenangkan dan sederhana, seperti menyanyikan lagu kebangsaan, bermain bersama, berbagi makanan atau mainannya, menghargai teman yang berbeda latar belakangnya. Anak juga dapat belajar mengenal hak dan kewajibannya, belajar hidup bemasyarakat, dan menghargai aturan. Saya percaya bahwa anak yang di kenalkan atau di ajari nilai-nilai tersebut akan menjadi dasar untuk membentuk karakter yang kuat di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks ini.

   Oleh karena itu peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar perlu melakukan kerja sama dalam menanamkan nilai-nilai kewarganegaraan sejak dini. Jika itu dilakukan sejara konsisten tan terus menerus anak akan memiliki jiwa sosial yang bagus dan siap menjadi warganegara yang baik di masa depan.

Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan Sejak Usia Dini

Oleh Hanifah Dhiyaul Haq 


     Pendidikan kewarganegaraan yang diajarkan sejak usia dini sangat penting dalam membentuk karakter dan persiapan sosial anak agar tumbuh menjadi warga negara yang baik di masa depan. Anak usia dini adalah masa emas (golden age), karena pada masa ini mereka mudah menerima nilai-nilai baru secara menyeluruh, termasuk rasa cinta tanah air, toleransi, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap keberagaman. Dengan belajar kewarganegaraan sejak usia dini, anak tidak hanya memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara, tetapi juga membantu membangun identitas kebangsaan yang kuat, terutama dalam menghadapi tantangan dari globalisasi dan perubahan sosial.

   Guru PAUD memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan melalui berbagai metode yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Metode yang tepat dapat membuat nilai-nilai Pancasila dan norma sosial diserap dengan cara yang menyenangkan dan efektif. Selain itu, pendidikan kewarganegaraan juga berperan dalam mencegah berbagai perilaku negatif yang muncul karena pengaruh lingkungan yang tidak sehat atau akses informasi digital yang kurang terarah.

    Pendidikan kewarganegaraan sejak usia dini membentuk anak menjadi individu yang kritis, bijaksana, dan bertanggung jawab. Mereka belajar bahwa keberagaman adalah kekayaan bangsa yang harus dijaga bersama. Dengan demikian, rasa persatuan dan solidaritas tumbuh sejak awalkehidupan mereka. Hal ini merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting untukkelangsungan bangsa dan negara.

  Oleh karena itu, penguatan pendidikan kewarganegaraan pada anak usia dini perlu didukung oleh kebijakan pendidikan yang komprehensif dan pelatihan guru yang memadai. Keterlibatan keluarga dan masyarakat juga diperlukan agar nilai-nilai kebangsaan benar-benar terinternalisasi dan menjadi dasar perilaku anak-anak sebagai generasi penerus bangsa


Pentingnya Kewarganegaraan Bagi Generasi Muda Khususnya Dalam Masa Pendidikan Anak Usia Dini

Oleh Tiara Ayudya Kirani


     Pendidikan kewarganegaraan sangatlah penting dikenalkan sejak usia dini karena dapat menjadi pembentukan karakter pada anak. Masa anak usia dini adalah masa emas (golden age) Dimana sikap, pola pikir dan kebiasaan anak masih mudah dibentuk. Dengan mengenalkan nilai kewarganegaraan sejak kecil seperti toleransi, cinta tanah air, kerja sama dan disiplin, anak-anak akan tumbuh menjadi generasi muda yang memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara yang baik dan kuat. Sebagai mahasiswa PGPAUD saya mempunyai peran besar dalam mempelajari lalu mengenalkan nilai-nilai tersebut kepada anak usia dini. 

  Selain itu, PKn di PAUD tidak hanya soal mengenalkan bendera maupun lagu kebangsaan, tapi juga mengajarkan nilai moral dan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, belajar menghargai teman, menjaga kebersihan, dan menaati aturan sederhana. Pembelajaran kewarganegaraan bagi PAUD ini dapat dilakukan melalui bercerita, melalui kegiatan beramain dan melakukan contoh nyata. Nilai-nilai ini akan menjadi kebiasaan anak-anak dan menjadi bekal mereka untuk memahami kewarganegaraan yang lebih luas di kehidupan selanjutnya.

    Pendidikan kewarganegaraan di usia dini juga membantu anak untuk mengenal identitas bangsanya, seperti bendera, budaya, maupun lagu kebangsaan. Hal ini akan menumbuhkan rasa bangga terhadap negara Indonesia. Anak yang mencintai bangsanya dapat tumbuh menjadi generasi yang bisa menjaga persatuan dan kesatuan negara. Rasa cinta tanah air yang tertanam sejak dini membuat anak lebih bisa peduli terhadap bangsa. Dengan begitu, anak siap menjadi warga negara yang mempunyai karakter baik.

      Dengan dasar pendidikan kewarganegaraan sejak dini yang baik, generasi muda sejak dini akan tumbuh menjadi pribadi yang peduli dan menghargai orang lain. Mereka akan memiliki rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri, lingkungan ataupun negara. Pendidikan kewarganegaraan ini menjadi Langkah awal untuk membentuk generasi yang cerdas, berkarakter dan mencintai tanah airnya.

Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan Pada Anak Usia Dini

 Oleh Uswatun Hasanah

   Menurut saya, pendidikan kewarganegaraan memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukkan kepribadian generasi bangsa. Pendidikan ini bukan hanya mempelajari aturan atau pun undang undang tetapi lebih dalam dari itu yaitu menanamkan nilai moral dalam warga negara. Selain itu pendidikan kewarganegaraan juga sangat penting untuk menumbuhkan cinta terhadap tanah air dan hak serta kewajiban.

   Pada anak usia dini sangat penting untuk mengenalkan kewarganegaraan karena pada tahap ini anak sedang membentuk karakter. Anak-anak sedang berada di tahap mudah untuk meniru, menyerap nilai, dan membentuk kebiasaan yang akan melekat ketika sudah dewasa. Salah satu pengenalan terhadap kewarganegaraan dengan memperkenalkan cinta tanah air, disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan toleransi. 

  Anak-anak juga akan menumbuhkan rasa nasionalisme sejak dini, contohnya seperti mendengarkan lagu kebangsaan, cerita mengenai pahlawan, dan bendera merah putih. Dengan begitu anak akan bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Semakin awal nilai yang ditanamkan akan semakin besar juga peluang untuk tumbuh menjadi warga negara yang baik.

Monday, October 6, 2025

Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan untuk Anak Usia Dini

 Oleh Tyas Antin Cahyaningrum


     Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) memiliki peran yang sangat penting sejak usia dini karena menjadi dasar pembentukan karakter dan kepribadian anak. PKn bukan hanya sekadar mengenalkan tentang kenegaraan atau aturan, tetapi juga menanamkan nilai moral, sopan santun, serta pemahaman awal mengenai hak dan kewajiban dalam kehidupan sehari-hari.

      Di era globalisasi, anak-anak usia dini dengan mudah terpapar berbagai pengaruh dari luar, baik melalui media maupun lingkungan. Jika tidak diarahkan, hal ini dapat memengaruhi sikap dan perilaku mereka, misalnya berkurangnya rasa hormat, kurangnya toleransi, atau sikap individualistis. Oleh karena itu, pendidikan kewarganegaraan sejak dini berfungsi sebagai fondasi untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila dan cinta tanah air. 

     Melalui PKn, anak usia dini diajarkan hal-hal sederhana seperti berbagi, bergiliran, menaati aturan permainan, menghormati orang lain, menjaga kebersihan, dan mencintai lingkungan. Nilai-nilai ini menjadi bekal awal untuk tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, disiplin, serta menghargai perbedaan. Selain itu, PKn juga membantu menumbuhkan kemampuan berpikir kritis sesuai tahap perkembangan anak, sehingga mereka bisa belajar membedakan perilaku baik dan buruk sejak kecil.

    Dengan demikian, PKn untuk anak usia dini bukanlah sesuatu yang berlebihan, melainkan sangat mendasar. Melalui pendidikan ini, anak dapat berkembang menjadi generasi yang berkarakter kuat, mencintai bangsa, serta siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan identitas sebagai warga negara Indonesia.

Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan pada Anak Usia Dini

oleh Deby Sabrina Siswoyo 

     Menurut saya, Pendidikan Kewarganegaraan sangat penting dikenalkan sejak anak berada di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Anak usia dini berada pada masa emas, di mana mereka cepat belajar, mudah meniru, dan mulai membentuk sikap serta kebiasaan. Kalau sejak kecil sudah dibiasakan dengan nilai-nilai kewarganegaraan, maka anak akan lebih mudah tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter baik dan peduli terhadap lingkungannya.

     Di PAUD, Pendidikan Kewarganegaraan bisa dilakukan dengan cara yang sederhana dan menyenangkan. Misalnya anak diajak menyanyi lagu nasional, mengenal bendera merah putih, pancasila, belajar antri saat bermain, berbagi dengan teman, atau menjaga kebersihan kelas. Kegiatan kecil seperti itu membuat anak terbiasa menghargai orang lain, belajar disiplin, dan menumbuhkan rasa cinta tanah air. Peran guru dan orang tua juga sangat penting. Anak-anak ini lebih cepat meniru apa yang dilihat daripada hanya mendengar kata-kata. Jika guru dan orang tua bisa memberi teladan dengan bersikap ramah, jujur, disiplin, dan saling menghargai, maka anak juga akan terbiasa meniru sikap itu. Dengan begitu, pendidikan kewarganegaraan tidak hanya sebatas pelajaran di kelas, tapi juga menjadi kebiasaan yang dilakukan sehari-hari.

 Saya percaya bahwa pendidikan kewarganegaraan sejak PAUD bisa menumbuhkan generasi yang bukan hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki budi pekerti, cinta tanah air, dan peduli terhadap sesama. Anak-anak yang sejak kecil sudah dibiasakan dengan nilai-nilai kewarganegaraan akan tumbuh menjadi warga negara yang bertanggung jawab dan siap membangun bangsa. Karena itu, menurut saya, pendidikan kewarganegaraan sebaiknya tidak ditunda sampai anak besar, tetapi mulai ditanamkan sejak usia dini dengan cara yang sederhana, menyenangkan, dan penuh teladan.

Penerapan SDG 2 melalui Aksi Berbagi untuk Mengurangi Kelaparan pada Masyarakat yang Membutuhkan di Sekitar Kampus

Universitas Negeri Yogyakarta, Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini melalui mata kuliah Pendidikan dan Pembangunan Berkel...