Monday, November 28, 2022

Media Pembelajaran dalam PAUD melalui permainan “Celengan Angka”

Matematika merupakan suatu proses keterampilan yang membantu anak dalam kehidupan atau lingkungannya sejak dini, tentunya anak memperoleh keterampilan tersebut secara bertahap bahkan bertahun-tahun untuk membangun pengetahuan dasar mereka, setiap anak memiliki tahapan dan perkembangan yang berbeda ke depan sesuai dengan tingkatannya ke tingkat yang lebih kompeten. Salah satu materi matematika yaitu berhitung. Menghitung adalah suatu kegiatan yang contoh melakukan perhitungan meliputi penjumlahan, pengurangan dan manipulasi angka dan simbol matematika lainnya, berhitung adalah keterampilan yang sangat penting bagi anak-anak yang perlu dikembangkan untuk membekali mereka di masa depan. Faktor utama yang dapat memengaruhi perkembangan kemampuan berhitung pada anak yaitu lingkungan belajar. Anak membutuhkan lingkungan belajar untuk membentuk pemahaman konseptualnya. Lingkungan belajar dengan suasana yang menyenangkan dan beragam dapat membantu anak mudah memahami ajaran guru. Lingkungan belajar yang dapat diciptakan untuk anak usia 5-6 tahun terdiri dari permainan dimana anak memperoleh pengalaman nyata. Permainan dibuat dalam suasana yang menyenangkan dan tidak monoton, sehingga anak tidak bosan mengikuti proses pembelajaran. Sehingga terciptalah metode pembelajaran berbasis permainan yang menyenangkan bagi AUD. Metode tersebut yaitu “Celengan Angka”. Celengan angka adalah media edukasi pada anak usia dini untuk mengenalkan konsep bilangan dan berhitung dari nomor 1 sampai nomor 10. Celengan bernomor digunakan sebagai alat untuk anak bermain dan belajar dimana anak memasukkan angka pada celengan kardus seolah ingin menabung, lalu si anak hitung dari 1 sampai 10. Presentasikan atau tampilkan pengenalan konsep angka saat bermain secara kelompok atau individu dengan memberikan tugas dan metode praktik langsung. Permainan ini dapat dilakukan di dalam maupun di luar kelas, yang penting suasananya menurut anak-anak lebih bervariasi dan menarik. Tujuan media pembelajaran ini adalah untuk meningkatkan keterampilan matematika pada masa awal anak usia dini. Alat dan bahan yang digunakan untuk membuat permainan ini berupa : 1. Kardus sepatu/ kardus sejenisnya yang ada tutupnya, (memanfaatkan barang bekas agar bermanfaat) 2. Cetak angka dan warna yang berbeda-beda. Tujuannya agar anak bisa mengenalkan angka sekaligus warna. 3. Setelah dicetak gunting/potong angka yang sudah dicetak lalu setiap sudut angkanya dilapisi dengan solasi agar aman saat dimainkan tidak ada sudut yang tajam. 3. Lubangi kardus untuk memasukan bendanya sesuai dengan ukuran yang di cetak Celengan angka ini bermanfaat bagi berbagai aspek perkembangan anak karena permainan ini berkonsep bermain sambil belajar, seperti mengenal konsep dan lambang bilangan, berhitung sederhana, dan mengenalkan menabung pada anak. Anak-anak secara bertahap memperoleh kemampuan ini, dan bahkan pengetahuan dasar yang dikumpulkan oleh setiap anak selama bertahun-tahun, sesuai dengan tingkat sebelumnya dan tahap perkembangan yang berbeda, naik ke tingkat yang lebih tinggi, bahkan ada yang memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah. Pembelajaran matematika terjadi secara alami seperti anak bermain, mengenalkan angka pada media, dan digunakan untuk belajar konsep angka dan berhitung pada anak usia dini, dari angka 1 sampai 10. Celengan digunakan sebagai alat permainan dan pembelajaran bagi anak, anak memasukkan uang ke dalam celengan kardus, dan anak berhitung dari 1 sampai 10. Perkenalkan konsep angka dalam latihan kelompok atau individu. Data Penulis : Rachmalia Sinta A.P 22111241051 PG PAUD 1B Sumber : Referensi Lianasari Widodoa, A. R. (2022). MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERHITUNG PERMULAAN MELLAUI MEDIA CELENGAN ANGKA PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN DI KB TRISUNAR OKU. jurnal multidisipliner kapalamada. Tubagus Rahman, N. K. (2021). PENERAPAN MEDIA BELAAJR TABUNG ANGKA UNTUK MENINGKATKAN PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK USIA DINI. Journal Of EarlyChildhood Education .

Kondisi PAUD di Indonesia dengan Berbagai Hambatan

Sumber: https://donasionline.id/bangunpaudtaruna Lembaga PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) merupakan lembaga yang berperan penting dalam mencetak generasi penerus bangsa. Lembaga PAUD mendidik anak usia dini agar menjadi anak yang cerdas den berkarakter. Pendidikan merupakan hal yang penting bagi setiap anak. PAUD merupakan lembaga pendidikan pertama anak sebelum masuk ke jenjang Sekolah Dasar (SD). Lembaga PAUD seharusnya memiliki kualitas yang baik yang mampu mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak berjalan dengan optimal. Sarana dan prasarana yang mendukung, kemampuan guru, serta masih banyak hal lainnya yang dapat menunjang keberhasilan sebuah lembaga PAUD. Akan tetapi, kenyataan di lapangan banyak hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Lembaga PAUD yang berada didaerah terpencil yang masyarakatnya memiliki tingkat ekonomi yang rendah, biasanya hanya ada PAUD ala kadarnya saja. Kesadaran orang tua yang memiliki anak pun terkadang masih rendah untuk menyekolahkan anaknya di PAUD. Namun adapula orang tua yang enggan menyekolahkan anaknya di PAUD karena PAUD didaerahnya tidak memenuhi standar PAUD yang seharusnya. Masih cukup banyak permasalahan yang ada di lembaga PAUD, terutama lembaga PAUD yang berada di daerah terpencil. Salah satu permasalahannya, yaitu kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung. Terkadang lembaga PAUD hanya menggunakan lahan kosong milik warga yang apa adanya dan tidak dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Adapula lembaga PAUD yang tidak memiliki toilet, padahal toilet menjadi salah satu fasilitas yang penting dalam sebuah lembaga pendidikan. Selain itu, masih cukup banyak guru yang belum memahami kurikulum yang sedang berlaku sehingga guru masih bingung untuk menerapkan dan mengajarkannya kepada anak. Kebingungan yang dialami oleh guru tentu berdampak pada proses pembelajaran yang akhirnya tidak dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Adanya pandemi covid-19 kemarin juga sempat membuat sektor pendidikan harus memutar otak untuk melaksanakan proses pembelajaran secara daring melalui gadget. Sedangkan masyarakat yang tinggal di daerah terpencil biasanya tidak memiliki gadget canggih yang bisa dipakai untuk mendukung proses pembelajaran daring. Selain itu, penyebaran guru di setiap daerah masih belum merata sehingga memungkinkan kekurangan SDM pada sebuah lembaga PAUD yang mengakibatkan adanya rangkap jabatan. Rangkap jabatan sering terjadi diberbagai sektor, tak hanya pendidikan. Hal ini dikarenakan masih belum meratanya SDM di tiap daerah. Isu-isu yang telah dipaparkan diatas merupakan permasalahan yang terjadi di lembaga PAUD, terutama di lembaga PAUD yang berada di daerah terpencil. Peran pemerintah serta kesadaran masyarakat dapat menjadi sebuah pendorong untuk pemecahan masalah dari berbagai masalah-masalah yang telah ada. Lembaga PAUD sebagai lembaga pendidikan bagi anak usia dini sudah semestinya menjadi lembaga yang membuat anak nyaman dan aman serta dapat mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. Sumber: Rahmanita, U; Lestari, V. A.; dan Akbarjono A. 2021. Gambaran Isu dan Kebijakan Lembaga PAUD di TK Negeri Tapus Kabupaten Lebong. Jurnal Ilmiah Potensia, 2021, Vol. 6 (2), 120-130. Data Penulis:
Nama : Nabila Alya Sudarsono NIM : 21111241018 Kelas : 3B

Picky Eater pada Anak Usia Dini

Picky eater merupakan kondisi dimana anak mau mengonsumsi berbagai jenis makanan baik yang sudah maupun yang belum dikenalnya tetapi menolak mengonsumsi dalam jumlah yang cukup. Gejala picky eater mudah dikenali, mulai dari menutup mulut atau memberontak saat makan, hingga sering menyingkirkan jenis makanan tertentu di piringnya, misalnya sayuran dan buah-buahan. Anak yang mengalami picky eater mulai menolak makanan pada usia satu sampai dua tahun, puncaknya dapat terjadi pada usia dua sampai enam tahun dan selanjutnya sesuai pertumbuhan individual. Bila hal ini terus berlanjut maka berat badan anak akan terus berkurang. Picky eater dapat menjadi pemicu anak mengalami kurang gizi, karena anak cenderung memiliki asupan energi, protein, karbohidrat, vitamin dan mineral lebih rendah dibandingkan anak yang non-picky eater. Gejala yang dialami anak picky eater adalah mengonsumsi variasi makanan terbatas, jumlah asupan terbatas, makan dengan lama, menolak mencoba makanan baru, menunjukkan preferensi makanan yang kuat baik makanan kesukaan ataupun tidak, dan menunjukkan sedikit ketertarikan terhadap makanan.
Sumber: parenting indonesia https://www.parenting.co.id/balita/3-kategori-balita-ini-berisiko-jadi-picky-eater Tips mengatasi anak picky eater: 1. Jangan paksa anak untuk makan Saat anak menolak makan makanan tertentu, tetap sabar dan jangan memaksa. Hal ini dapat membuat anak tidak nyaman dan akan terus menolak mengonsumsi makanan tersebut di kemudian hari. Dibutuhkan setidaknya 10-15 percobaan hingga anak terbiasa dan mau memakan suatu makanan tersebut. 2. Sajikan makanan dengan menarik Menyajikan makanan dengan tampilan yang menarik, mulai dari bentuk, susunan, atau warna yang berbeda. Bila perlu, memberikan nama yang unik pada makanan untuk menarik perhatian anak, sehingga ia mau mengonsumsi makanan tersebut. 3. Perbolehkan anak menyentuh makanannya Anak bisa saja enggan memakan makanan yang belum benar-benar dikenalnya. Sebaiknya kenalkan makanan dengan cara anak menyentuh langsung dan mengenali makanannya. 4. Buat suasana makan jadi menyenangkan Buatlah suasana makan menjadi kegiatan yang menyenangkan, misalnya dengan menyajikan makanan dengan tempat makan yang unik dan lucu, dapat juga menyertakan makanan yang paling disukai anak. Anak dapat memulai suapan dengan makanan yang tak terlalu disukainya, selanjutnya memberikan makanan kesukaannya di bagian akhir. 5. Cari teman makan bersama Bila anak menolak makanan jenis tertentu, cobalah untuk mencari teman makan yang menyukai makanan tersebut. Hal ini dapat membantu meyakinkan anak kalau makanan yang tidak ia sukai sebenarnya enak atau tidak aneh, sehingga ia akan mulai mencoba makanan tersebut. DAFTAR PUSTAKA Hardianti, R., Dieny, F. F., & Wijayanti, H. S. (2018). Picky eating dan status gizi pada anak prasekolah. Jurnal Gizi Indonesia (The Indonesian Journal of Nutrition), 6(2), 123-130. Doi: https://doi.org/10.14710/jgi.6.2.123-130 https://www.alodokter.com/bunda-ini-penyebab-dan-tips-menghadapi-anak-picky-eater   DATA DIRI PENULIS
Nama : Nisrina Khairunnisa NIM : 20111241046 Kelas : 5B

Pendidikan Anak Usia Dini Sebagai Pendidikan Dasar Manusia yang Bermoral dan Beragama

Sumber : http://assets.kompasiana.com/items/album/2021/10/27/whatsapp-image-2021-10-27-at-11-28-06-pm-61797ec706310e0c5a0abc02.jpeg Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang paling dasar setelah anak mengalami kelahiran nya di dunia, dalam fase prenatal ibu telah memberikan pendidikan kepada janinnya berupa memberikan pesan, dengan pendengarannya yang terbentuk di dalam kandungan anak dapat mendengar apa yang dikatakan ibu serta dapat mendengar apa yang dibaca dan didengar ibu. Agama memiliki peranan penting untuk pendidikan anak usia dini karena agama memiliki kedudukan yang tinggi sebagai pembentuk sikap, perilaku dan adab seorang anak. Dengan agama anak dapat membedakan mana yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan Langkah langkah orang tua dalam mengajarkan nilai moral dan agama sebagai berikut. 1. Ajarkan sesuatu yang bernilai,sampaikan kepada anak dengan bahasa yang mudah dan sederhana sehingga anak dapat memahami ajaran tersebut dengan mudah. 2. Contohkan atau memberikan teladan (modeling) seperti dalam teori yang diajarkan Bandura. 3. Biasakanlah anak dengan perilaku yang sudah diajarkan dan dicontohkan setiap hari agar anak tidak melupakan kebiasaan baik tersebut. 4. Budayakan anak terhadap perilaku yang sudah dibiasakan agar perilaku baik juga dapat menular kepada temannya atau orang yang di sekitarnya. Dalam pendidikan anak, orang tua harus sabar dan teliti untuk menjaga perilaku yang sudah menjadi budaya, baik dilingkungan sosial maupun dirumah, awasi setiap perkembangan sosial dan interaksi anak dalam setiap pergaulannya agar sikap anak tetap terjaga hingga dia dewasa nanti. Pendidikan yang bermutu dan berbobot menjadikan pendidikan moral anak lebih mudah masuk dalam ingatan anak sehingga orang tua tak perlu lagi khawatir terhadap perkembangan pendidikan anaknya di sekolah sehingga menjadikan lingkungan sekolah yang kondusif serta bermoral agama.
Nama : Kurniawan Nurul Hidayat NIM :21111244017 Kelas : 3A

Inovasi APE “Feed The Cat” untuk Kognitif dan Motorik Anak Usia Dini

Anak usia dini adalah usia dimana anak sedang melalui masa perkembangan emasnya, baik dalam kognitif, motoric, Bahasa, seni, dan aspek lainnya. APE atau Alat Permainan Edukatif menjadi salah satu media bermain dan belajar anak usia dini baik di rumah maupun sekolah. Alat Permainan Edukatif juga bisa dikreasikan bersama anak sehingga mengasah kreatifitas mereka dan mengasah kelekatan antara orang tua maupun guru dengan anak menggunakan bahan yang mudah didapat serta aman bagi anak usia dini. Permainan “Feed The Cat” bisa dimanfaatkan dari barang bekas seperti kardus serta kain perca yang ada di sekitar kita sebagai bahan utamanya. Orang tua dan guru juga bisa mengganti figure hewan menjadi kelinci dengan wortel, anjing dengan tulang, dan hewan lainnya dengan jenis makanannya juga. Sehingga anak tidak mudah bosan saat bermain. Permainan “Feed The Cat” ini cukup sederhana, sehingga cocok dimainkan untuk anak usia 3-4 tahun, berikut langkah bermainnya: 1. Putar spinner, lihat angka yang ditunjuk anak panah saat berhenti berputar. 2. Masukkan ikan pada mulut ikan dengan jumlah sesuai pada angka yang ditunjuk anak panah sebelumnya. Dari cara bermain yang disebutkan tadi, permainan ini sangat bermanfaat untuk kognitif dan motoric halus anak. Misalnya, ketika anak mengenal jenis hewan dan makanannya, mengenal jumlah dan konsep angka 1-10, dan mengenal cara bermain sederhana sesuai aturan. Kemudian untuk motoric halus anak akan terstimulasi ketika memainkan spinner dan memasukkan ikan dalam mulut ikan. Tujuan pendukung dari permainan ini adalah untuk mengenalkan warna dan tekstur yang beragam untuk anak. Yang dimana hal tersebut jika dilihat dari Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak akan merangsang perkembangan anak dalam seninya juga. Dengan mengenalkan bermain sambil belajar, juga merupakan salah satu prinsip dari kurikulum merdeka yang memerdekakan anak dalam pembelajaran secara menyeluruh. Karena ketika bermain “Feed The Cat”, berbagai aspek perkembangan anak akan terangsang. Hal tersebut sebagai persiapan anak sebelum mendapatkan pendidikan di jenjang selanjutnya. Dengan bahan utama yang ekonomis, permainannya bermanfaat, dan cara bermainnya yang sederhana, sehingga permainan ini sangat cocok diterapkan untuk anak usia dini. Siapa bilang permainan anak itu mahal? Mari berkreasi bersama anak! Sumber : Penugasan Proposal Media Pembelajaran Inspirasi : https://www.instagram.com/p/CE9dTInJHgo/
Anggit Windyarti 21111241057 PG PAUD 3B

Penerapan SDG 2 melalui Aksi Berbagi untuk Mengurangi Kelaparan pada Masyarakat yang Membutuhkan di Sekitar Kampus

Universitas Negeri Yogyakarta, Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini melalui mata kuliah Pendidikan dan Pembangunan Berkel...