Saturday, November 29, 2025

Penerapan SDG 2 melalui Aksi Berbagi untuk Mengurangi Kelaparan pada Masyarakat yang Membutuhkan di Sekitar Kampus

Universitas Negeri Yogyakarta, Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini melalui mata kuliah Pendidikan dan Pembangunan Berkelanjutan melaksanakan program “Aksi Berbagi Nasi untuk Masyarakat yang Membutuhkan” pada Rabu, 19 November 2025 di lingkungan sekitar Kampus Universitas Negeri Yogyakarta, Jalan Gejayan, Depok, Sleman. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian sosial mahasiswa serta memperkuat kesadaran mengenai pentingnya pemenuhan kebutuhan pangan bagi kelompok rentan di sekitar lingkungan kampus. Program ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), yang berfokus pada upaya mengurangi kerentanan pangan serta memastikan bahwa setiap orang memiliki akses terhadap makanan yang layak. Melalui aksi sederhana namun bermakna ini, mahasiswa diajarkan untuk memahami bahwa isu kelaparan tidak hanya terjadi di wilayah terpencil, tetapi dapat ditemui di lingkungan terdekat.

Sebagai wujud komitmen terhadap SDG 2, program ini mengangkat tema “Berbagi untuk Mengurangi Kelaparan di Lingkungan Sekitar” dengan sasaran masyarakat rentan yang ditemui di area sekitar Kampus UNY dan Jalan Gejayan. Program ini dilaksanakan oleh mahasiswa PG-PAUD UNY kelas A kelompok 1 yang bertugas menyiapkan seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari penggalangan dana internal, pembelian nasi box, pembagian peran, hingga pendistribusian makanan kepada penerima manfaat. Para mahasiswa sebelumnya mengikuti briefing singkat untuk memastikan kegiatan berjalan tertib, sopan, dan tetap menghormati martabat penerima bantuan. Aksi berbagi dilakukan dengan menyusuri area kampus dan sekitarnya menggunakan motor untuk mencari individu yang terlihat membutuhkan, seperti pekerja harian, pemulung, dan masyarakat rentan lainnya.

Konten kegiatan ini berawal dari pemahaman bahwa pemenuhan kebutuhan pangan merupakan bagian mendasar dari kualitas hidup manusia. Menurut penelitian, ketahanan pangan tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan makanan, tetapi juga oleh tingkat kerentanan sosial, mobilitas ekonomi, dan keterjangkauan pangan di lingkungan perkotaan (Ariani & Suryana, 2023). Realitas ini tercermin dari observasi mahasiswa selama kegiatan, di mana beberapa penerima manfaat ditemukan masih mengalami keterbatasan akses terhadap makanan layak setiap harinya. Melalui aksi berbagi ini, mahasiswa tidak hanya memberikan bantuan langsung dalam bentuk 10 nasi box, tetapi juga belajar mengembangkan empati, kepekaan sosial, dan kemampuan melihat isu ketidakadilan pangan secara lebih dekat. “Aksi berbagi seperti ini mengingatkan kami bahwa masih banyak orang yang membutuhkan bantuan sederhana seperti makanan. Harapannya, kegiatan ini bisa menggerakkan lebih banyak mahasiswa untuk peduli serta memahami pentingnya mendukung SDG 2 sebagai upaya mengurangi kelaparan di lingkungan sekitar,” ujar Salma Azkiya, perwakilan mahasiswa PG-PAUD.

Program ini memberikan hasil positif, baik bagi penerima manfaat maupun bagi mahasiswa. Bagi masyarakat, aksi ini memberikan bantuan pangan langsung yang dapat membantu memenuhi kebutuhan makan sesaat. Sementara bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi media pembelajaran nyata mengenai pentingnya solidaritas sosial, literasi kemanusiaan, serta tanggung jawab moral dalam mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan. Program ini sejalan dengan prinsip SDG 2 yang menekankan pentingnya mengurangi kelaparan, meningkatkan ketahanan pangan, dan memastikan akses terhadap makanan bagi semua orang tanpa terkecuali.

Pelaksanaan program ini menjadi bukti nyata bahwa Universitas Negeri Yogyakarta terus berupaya mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan melalui keterlibatan mahasiswa secara langsung di masyarakat. Kegiatan edukatif seperti ini diharapkan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan diperluas cakupannya, sehingga nilai kepedulian, empati, dan perilaku berbagi dapat tertanam semakin kuat di kalangan mahasiswa. Harapannya, kolaborasi antara kampus, masyarakat sekitar, dan berbagai pihak lainnya dapat terus diperkuat agar upaya mencapai SDG 2 dapat berjalan optimal serta memberikan dampak jangka panjang bagi kesejahteraan sosial dan kemanusiaan.


Gambar 1. Menyalurkan Nasi Kotak kepada Masyarakat yang Membutuhkan


Gambar 2. Menyalurkan Nasi Kotak kepada Masyarakat yang Membutuhkan


Gambar 3. Menyalurkan Nasi Kotak kepada Masyarakat yang Membutuhkan

Gambar 4. Menyalurkan Nasi Kotak kepada Masyarakat yang Membutuhkan


Domumentasi pelaksanaan kegiatan ini dapat diakses melalui link YouTube berikut:

https://youtu.be/3Uplh2h_Qqk?si=fo57eO1We3kFA54O 

Tuesday, October 7, 2025

Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan Pada Anak Usia Dini

 Oleh Shilfa Amalia Putri


  Pendidikan kewarganegaraan sering sekali dianggap sebagai mata pelajaran yang hanya relevan di ajarkan pada anak tingkat dasar hingga menengah. Tetapi menurut pendapat saya, pendidikan kewarga negaraan justru sangat penting di mulai sejak anak usia dini untuk mendukung perkembanganya. Walaupun anak belum mengerti soal politik, hukum, atau pemerintahan, tetapi mereka sudah mulai belajar bagaimana bersikap, berperilaku, dan berintegritas dengan orang lain. Karena masa tersebut adalah periode emas bagi anak dalam membentuk kepribadian, nilai, dan karakter anak. Maka dari itu, mengenalkan nilai-nilai dasar kewarganegaraan sangat penting di mulai dari anak usian dini. 

       Pendidikan kewarganegaraan bagi anak usia dini bukan berati kita mengajarkan teori politik atau sistem pemerintahan, tetapi kita mengajarkan nilai-nilai kehidupan bermasyarakat, seperti belajar jujur, tanggung jawab, tolong-menolong, disiplin dan mencitai tanah air. Mengajarinyapun dengan kegiatan yang menyenangkan dan sederhana, seperti menyanyikan lagu kebangsaan, bermain bersama, berbagi makanan atau mainannya, menghargai teman yang berbeda latar belakangnya. Anak juga dapat belajar mengenal hak dan kewajibannya, belajar hidup bemasyarakat, dan menghargai aturan. Saya percaya bahwa anak yang di kenalkan atau di ajari nilai-nilai tersebut akan menjadi dasar untuk membentuk karakter yang kuat di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks ini.

   Oleh karena itu peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar perlu melakukan kerja sama dalam menanamkan nilai-nilai kewarganegaraan sejak dini. Jika itu dilakukan sejara konsisten tan terus menerus anak akan memiliki jiwa sosial yang bagus dan siap menjadi warganegara yang baik di masa depan.

Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan Sejak Usia Dini

Oleh Hanifah Dhiyaul Haq 


     Pendidikan kewarganegaraan yang diajarkan sejak usia dini sangat penting dalam membentuk karakter dan persiapan sosial anak agar tumbuh menjadi warga negara yang baik di masa depan. Anak usia dini adalah masa emas (golden age), karena pada masa ini mereka mudah menerima nilai-nilai baru secara menyeluruh, termasuk rasa cinta tanah air, toleransi, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap keberagaman. Dengan belajar kewarganegaraan sejak usia dini, anak tidak hanya memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara, tetapi juga membantu membangun identitas kebangsaan yang kuat, terutama dalam menghadapi tantangan dari globalisasi dan perubahan sosial.

   Guru PAUD memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan melalui berbagai metode yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Metode yang tepat dapat membuat nilai-nilai Pancasila dan norma sosial diserap dengan cara yang menyenangkan dan efektif. Selain itu, pendidikan kewarganegaraan juga berperan dalam mencegah berbagai perilaku negatif yang muncul karena pengaruh lingkungan yang tidak sehat atau akses informasi digital yang kurang terarah.

    Pendidikan kewarganegaraan sejak usia dini membentuk anak menjadi individu yang kritis, bijaksana, dan bertanggung jawab. Mereka belajar bahwa keberagaman adalah kekayaan bangsa yang harus dijaga bersama. Dengan demikian, rasa persatuan dan solidaritas tumbuh sejak awalkehidupan mereka. Hal ini merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting untukkelangsungan bangsa dan negara.

  Oleh karena itu, penguatan pendidikan kewarganegaraan pada anak usia dini perlu didukung oleh kebijakan pendidikan yang komprehensif dan pelatihan guru yang memadai. Keterlibatan keluarga dan masyarakat juga diperlukan agar nilai-nilai kebangsaan benar-benar terinternalisasi dan menjadi dasar perilaku anak-anak sebagai generasi penerus bangsa


Pentingnya Kewarganegaraan Bagi Generasi Muda Khususnya Dalam Masa Pendidikan Anak Usia Dini

Oleh Tiara Ayudya Kirani


     Pendidikan kewarganegaraan sangatlah penting dikenalkan sejak usia dini karena dapat menjadi pembentukan karakter pada anak. Masa anak usia dini adalah masa emas (golden age) Dimana sikap, pola pikir dan kebiasaan anak masih mudah dibentuk. Dengan mengenalkan nilai kewarganegaraan sejak kecil seperti toleransi, cinta tanah air, kerja sama dan disiplin, anak-anak akan tumbuh menjadi generasi muda yang memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara yang baik dan kuat. Sebagai mahasiswa PGPAUD saya mempunyai peran besar dalam mempelajari lalu mengenalkan nilai-nilai tersebut kepada anak usia dini. 

  Selain itu, PKn di PAUD tidak hanya soal mengenalkan bendera maupun lagu kebangsaan, tapi juga mengajarkan nilai moral dan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, belajar menghargai teman, menjaga kebersihan, dan menaati aturan sederhana. Pembelajaran kewarganegaraan bagi PAUD ini dapat dilakukan melalui bercerita, melalui kegiatan beramain dan melakukan contoh nyata. Nilai-nilai ini akan menjadi kebiasaan anak-anak dan menjadi bekal mereka untuk memahami kewarganegaraan yang lebih luas di kehidupan selanjutnya.

    Pendidikan kewarganegaraan di usia dini juga membantu anak untuk mengenal identitas bangsanya, seperti bendera, budaya, maupun lagu kebangsaan. Hal ini akan menumbuhkan rasa bangga terhadap negara Indonesia. Anak yang mencintai bangsanya dapat tumbuh menjadi generasi yang bisa menjaga persatuan dan kesatuan negara. Rasa cinta tanah air yang tertanam sejak dini membuat anak lebih bisa peduli terhadap bangsa. Dengan begitu, anak siap menjadi warga negara yang mempunyai karakter baik.

      Dengan dasar pendidikan kewarganegaraan sejak dini yang baik, generasi muda sejak dini akan tumbuh menjadi pribadi yang peduli dan menghargai orang lain. Mereka akan memiliki rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri, lingkungan ataupun negara. Pendidikan kewarganegaraan ini menjadi Langkah awal untuk membentuk generasi yang cerdas, berkarakter dan mencintai tanah airnya.

Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan Pada Anak Usia Dini

 Oleh Uswatun Hasanah

   Menurut saya, pendidikan kewarganegaraan memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukkan kepribadian generasi bangsa. Pendidikan ini bukan hanya mempelajari aturan atau pun undang undang tetapi lebih dalam dari itu yaitu menanamkan nilai moral dalam warga negara. Selain itu pendidikan kewarganegaraan juga sangat penting untuk menumbuhkan cinta terhadap tanah air dan hak serta kewajiban.

   Pada anak usia dini sangat penting untuk mengenalkan kewarganegaraan karena pada tahap ini anak sedang membentuk karakter. Anak-anak sedang berada di tahap mudah untuk meniru, menyerap nilai, dan membentuk kebiasaan yang akan melekat ketika sudah dewasa. Salah satu pengenalan terhadap kewarganegaraan dengan memperkenalkan cinta tanah air, disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan toleransi. 

  Anak-anak juga akan menumbuhkan rasa nasionalisme sejak dini, contohnya seperti mendengarkan lagu kebangsaan, cerita mengenai pahlawan, dan bendera merah putih. Dengan begitu anak akan bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Semakin awal nilai yang ditanamkan akan semakin besar juga peluang untuk tumbuh menjadi warga negara yang baik.

Monday, October 6, 2025

Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan untuk Anak Usia Dini

 Oleh Tyas Antin Cahyaningrum


     Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) memiliki peran yang sangat penting sejak usia dini karena menjadi dasar pembentukan karakter dan kepribadian anak. PKn bukan hanya sekadar mengenalkan tentang kenegaraan atau aturan, tetapi juga menanamkan nilai moral, sopan santun, serta pemahaman awal mengenai hak dan kewajiban dalam kehidupan sehari-hari.

      Di era globalisasi, anak-anak usia dini dengan mudah terpapar berbagai pengaruh dari luar, baik melalui media maupun lingkungan. Jika tidak diarahkan, hal ini dapat memengaruhi sikap dan perilaku mereka, misalnya berkurangnya rasa hormat, kurangnya toleransi, atau sikap individualistis. Oleh karena itu, pendidikan kewarganegaraan sejak dini berfungsi sebagai fondasi untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila dan cinta tanah air. 

     Melalui PKn, anak usia dini diajarkan hal-hal sederhana seperti berbagi, bergiliran, menaati aturan permainan, menghormati orang lain, menjaga kebersihan, dan mencintai lingkungan. Nilai-nilai ini menjadi bekal awal untuk tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, disiplin, serta menghargai perbedaan. Selain itu, PKn juga membantu menumbuhkan kemampuan berpikir kritis sesuai tahap perkembangan anak, sehingga mereka bisa belajar membedakan perilaku baik dan buruk sejak kecil.

    Dengan demikian, PKn untuk anak usia dini bukanlah sesuatu yang berlebihan, melainkan sangat mendasar. Melalui pendidikan ini, anak dapat berkembang menjadi generasi yang berkarakter kuat, mencintai bangsa, serta siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan identitas sebagai warga negara Indonesia.

Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan pada Anak Usia Dini

oleh Deby Sabrina Siswoyo 

     Menurut saya, Pendidikan Kewarganegaraan sangat penting dikenalkan sejak anak berada di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Anak usia dini berada pada masa emas, di mana mereka cepat belajar, mudah meniru, dan mulai membentuk sikap serta kebiasaan. Kalau sejak kecil sudah dibiasakan dengan nilai-nilai kewarganegaraan, maka anak akan lebih mudah tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter baik dan peduli terhadap lingkungannya.

     Di PAUD, Pendidikan Kewarganegaraan bisa dilakukan dengan cara yang sederhana dan menyenangkan. Misalnya anak diajak menyanyi lagu nasional, mengenal bendera merah putih, pancasila, belajar antri saat bermain, berbagi dengan teman, atau menjaga kebersihan kelas. Kegiatan kecil seperti itu membuat anak terbiasa menghargai orang lain, belajar disiplin, dan menumbuhkan rasa cinta tanah air. Peran guru dan orang tua juga sangat penting. Anak-anak ini lebih cepat meniru apa yang dilihat daripada hanya mendengar kata-kata. Jika guru dan orang tua bisa memberi teladan dengan bersikap ramah, jujur, disiplin, dan saling menghargai, maka anak juga akan terbiasa meniru sikap itu. Dengan begitu, pendidikan kewarganegaraan tidak hanya sebatas pelajaran di kelas, tapi juga menjadi kebiasaan yang dilakukan sehari-hari.

 Saya percaya bahwa pendidikan kewarganegaraan sejak PAUD bisa menumbuhkan generasi yang bukan hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki budi pekerti, cinta tanah air, dan peduli terhadap sesama. Anak-anak yang sejak kecil sudah dibiasakan dengan nilai-nilai kewarganegaraan akan tumbuh menjadi warga negara yang bertanggung jawab dan siap membangun bangsa. Karena itu, menurut saya, pendidikan kewarganegaraan sebaiknya tidak ditunda sampai anak besar, tetapi mulai ditanamkan sejak usia dini dengan cara yang sederhana, menyenangkan, dan penuh teladan.

Pembentukan Karakter Positif Anak Usia Dini melalui PAUD dan Pendidikan Kewarganegaraan

oleh Dhafirah Jaya Wita Cirbany


Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan tahap fundamental dalam pembangunan generasi di masa yang akan datang. Dorongan stimulasi yang dilakukan oleh orang tua, guru, teman sebaya, dan lingkungan penting untuk diberikan. Pada tahap PAUD, sebaiknya anak perlu dilatih untuk membiasakan diri dengan karakter positif. Karakter positif menumbuhkan kesadaran mampu melakukan perubahan, berani, dan tidak membatasi diri dengan kemampuan yang dimilikinya. Perubahan positif juga bisa melalui pendidikan kewarganegaraan yang ditanamkan, terutama dalam pendidikan mental untuk menumbuhkan kesadaran hak dan kewajiban, berani berargumen dan menganalisis perubahan dalam lingkungannya, serta mengubah kebiasaan buruk menjadi baik. Karakter-karakter positif tersebut jika seimbang diimplementasikan, baik di sekolah mau pun rumah akan membangun kesadaran cinta tanah air dan pengendalian diri yang baik, serta memaksimalkan potensi diri. Dengan begitu, negara Indonesia dapat membentuk generasi masa depan yang berkualitas.

Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan bagi Generasi Muda Sejak Usia Dini

oleh Huwaida Salwa Rosyidah


 Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) penting diberikan sejak anak masih usia dini. Di masa ini, anak sedang belajar mengenal mana yang baik dan mana yang salah. Melalui PKn, mereka bisa dibiasakan untuk bersikap jujur, bertanggung jawab, menghargai orang lain, dan mau bekerja sama. Hal-hal sederhana seperti menepati janji, berbagi dengan teman, atau menjaga kebersihan lingkungan sekolah, sebenarnya sudah termasuk bagian dari pendidikan kewarganegaraan. Jika anak terbiasa sejak kecil, nilai-nilai tersebut akan melekat sampai mereka dewasa.

     Selain itu, PKn juga membantu anak memahami bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat. Dengan belajar aturan dan tata tertib, anak bisa lebih disiplin dan mengerti pentingnya saling menghormati. Ketika anak terbiasa menjalankan aturan dengan baik, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang mampu hidup berdampingan secara harmonis dengan orang lain. Hal ini tentu sangat bermanfaat dalam kehidupan sosial mereka, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.

   Pendidikan kewarganegaraan juga menjadi dasar penting dalam membentuk karakter generasi muda agar tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara moral. Anak yang sejak dini dibekali dengan nilai-nilai kewarganegaraan akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan, karena mereka sudah memiliki sikap yang positif seperti disiplin, empati, dan rasa tanggung jawab. Nilai-nilai inilah yang nantinya akan membantu mereka dalam mengambil keputusan yang bijak di kehidupan sehari-hari.

  Jadi, PKn tidak hanya membuat anak pandai tentang pengetahuan kewarganegaraan, tetapi juga berperan besar dalam membentuk sikap dan kepribadian yang bermanfaat sepanjang hidup. Dengan pembiasaan yang konsisten, anak akan tumbuh menjadi individu yang berkarakter baik, mampu menghargai perbedaan, serta siap berkontribusi positif bagi lingkungannya. Inilah mengapa PKn penting ditanamkan sejak dini agar menjadi bekal berharga untuk masa depan mereka.

Mengapa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Penting bagi Generasi Muda, Khususnya Anak Usia Dini?

oleh Mahanani Anisa Ikhtiari


   Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) tentunya punya peran penting dalam membentuk karakter generasi muda sejak usia dini. Masa kanak-kanak adalah periode emas di mana nilai, sikap, dan kebiasaan mulai tertanam. Pada tahap ini, anak lebih mudah menyerap informasi dan meniru perilaku yang ditunjukkan. Dengan mengenalkan nilai-nilai PPKn sejak dini, anak dapat belajar tentang sopan santun, rasa hormat kepada orang lain, serta pentingnya kerja sama dalam kehidupan sehari-hari.

    Selain itu, PPKn membantu anak memahami dasar-dasar kehidupan bermasyarakat. Jelas, anak usia dini mungkin belum bisa memahami konsep abstrak tentang negara atau hukum, tapi mereka dapat diperkenalkan pada aturan sederhana seperti bergiliran bermain, menghargai teman, dan mengikuti tata tertib di sekolah. Nilai-nilai ini menjadi pondasi awal mereka untuk kelak mengerti apa itu keadilan, persatuan, dan tanggung jawab sebagai warga negara.

   Pengenalan PPKn pada anak juga berfungsi untuk menanamkan rasa cinta tanah air sejak kecil. Bukan hanya lewat hafalan lagu kebangsaan atau simbol negara, tetapi juga melalui kegiatan sederhana yang menumbuhkan rasa kebersamaan dan bangga menjadi bagian dari bangsa. Misalnya, anak diajak bekerja sama dalam kelompok, mengenal budaya lokal, atau menghargai perbedaan yang ada di sekitarnya. Hal-hal kecil ini pada akhirnya akan membentuk sikap toleransi dan solidaritas.

       Dengan demikian, PPKn tidak boleh dipandang hanya sebagai mata pelajaran formal di sekolah dasar atau menengah, melainkan sebagai upaya pembentukan karakter sejak usia dini. Melalui pendekatan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, PPKn dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan generasi yang cerdas, berakhlak baik, serta memiliki rasa tanggung jawab sosial. Jika nilai-nilai ini ditanamkan sejak awal, maka generasi mendatang akan lebih siap menghadapi tantangan, sekaligus menjaga persatuan dalam keberagaman bangsa.


Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan bagi Generasi Muda dalam Masa Pendidikan Anak Usia Dini

oleh Asyak Ngismah Siwi Nurrohhati


   Mendidik anak usia dini adalah investasi berharga untuk masa depan bangsa. Salah satu aspek penting yang harus diajarkan adalah pendidikan kewarganegaraan. Dengan mengajarkan nilai-nilai kewarganegaraan sejak dini, dapat membentuk generasi muda yang memiliki karakter kuat, tanggung jawab, dan rasa cinta tanah air. Mengajarkan pendidikan kewarganegaraan untuk anak usia dini tidak harus dengan metide formal, bisa lewat kegiatan sehari-hari, seperti bermain peran, menyanyi, dan kegiatan sederhana lainnya.

   Menanamkan pendidikan kewarganegaraan pada anak usia dini tidak hanya sekedar mengenalkan nama-nama pahlawan atau lambang negara. Tetapi bertujuan untuk membangun fondasi karakter yang kuat. Mengajak anak-anak memahami konsep sederhana tentang tanggung jawab, saling menghormati, kerja sama, dan kejujuran. Hal tersebut merupakan bekal utama agar mereka menjadi individu yabg beretika, pedi, dan bermoral.

    Pendidikan kewarganegaraan juga berperan penting dalam mengenalkan identitas nasional. Lewat lagu-lagu nasional, cerita rakyat, atau permainan tradisional, anak-anak secara tidak sadar akan merasa bangga menjadi bangsa Indonesia. Rasa bangga tersebut akan menumbuhkan rasa cinta tanah air.

Mengapa Pendidikan Kewarganegaraan Penting diajarkan Sejak Dini?

oleh Alfina Salsabila


     PAUD sangat penting sebagai tahap awal untuk menumbuhkan kesadaran kewarganegaraan yang kuat. Anak-anak pada usia dini memiliki daya ingat yang baik dan kebiasaan mencontoh perilaku di lingkungan sekitar mereka. Dengan pendekatan belajar yang menyenangkan dan sesuai, nilai-nilai kewarganegaraan seperti kejujuran, tanggung jawab, dan toleransi bisa diajarkan dengan efektif, sehingga membentuk karakter positif dan kebiasaan baik yang akan bertahan hingga dewasa. Dalam proses ini, peran guru dan orang tua sangat vital untuk memastikan nilai tersebut benar-benar tertanam dalam diri anak.

      Selain itu, pendidikan kewarganegaraan di usia dini juga bertujuan mempersiapkan anak agar menjadi individu yang aktif dan bertanggung jawab dalam masyarakat kelak. Anak diperkenalkan pada nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman dalam berbangsa dan bernegara, melalui metode pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan mereka. Hal ini sangat penting agar generasi muda dapat menghargai perbedaan, menjaga persatuan, dan memberikan kontribusi positif bagi kemajuan bangsa. Oleh karena itu, dukungan guru dan orang tua sangat diperlukan agar pembelajaran ini dapat berjalan optimal dan nilai-nilai kewarganegaraan terbentuk secara kokoh.

Tuesday, March 25, 2025

PRA SELEKSI P2MW UNY TAHUN 2025

 

Hallo sobat PAUD, mahasiswa Program Sarjana (S1), mari kita ikuti dan sukseskan Pra Seleksi P2MW Tahun 2025!

Timeline:

  • Unggah Proposal ke Sistem Internal UNY (24 Maret-14 April 2025)
  • Review Administratif Proposal P2MW UNY (15-16 April 2025)
  • Review Substantif Proposal P2MW UNY (17-18 April 2025)

Segera daftarkan diri dan tim kalian melalui tautan berikut: 

🖇: https://uny.id/SeleksiP2MWUNY2025

*(Wajib menggunakan email UNY)


Template Proposal P2MW UNY 2025

  • Kategori Usaha Bisnis Non Digital

https://uny.id/TemplateNonDig-P2MWUNY2025

  • Kategori Usaha Bisnis Digital

https://uny.id/TemplateDig-P2MWUNY2025

*(Wajib menggunakan email UNY)


Deadline Unggah Proposal 

→Senin, 14 April 2025 pukul 23.59 WIB


Sekian yang dapat kami sampaikan, terima kasih.

Tuesday, January 7, 2025

Benang Kata dalam Kain Cerita

Benang Kata dalam Kain Cerita
Oleh : Ilham Adi Saputra (PGSD UNY)

     Di sebuah desa kecil yang terkenal dengan keindahan kain songketnya, hiduplah seorang penenun bernama Nala. Setiap pagi, Nala duduk di depan alat tenunnya, jemarinya yang lincah menari-nari di antara benang-benang warna-warni, menciptakan pola-pola indah yang menceritakan kisah-kisah masa lalu. Bagi Nala, setiap helai kain songket yang ia tenun bukan sekadar karya seni, melainkan sebuah cerita yang ditulis dengan benang.

     Di desa yang sama, di sudut jalan yang sepi, berdiri sebuah toko buku kecil milik Anggi. Toko buku itu selalu dipenuhi dengan aroma kertas dan tinta yang khas, serta tumpukan buku dari berbagai genre. Anggi, seorang pemilik toko yang penuh semangat, selalu percaya bahwa setiap buku menyimpan kekuatan untuk mengubah hidup seseorang. Ia selalu berusaha untuk menemukan buku yang tepat bagi setiap pelanggan yang datang, ia percaya bahwa di dalam setiap buku terdapat cerita yang menunggu untuk ditemukan.

   Suatu hari, jalan hidup Nala dan Anggi berpotongan ketika Nala memutuskan untuk mengunjungi toko buku Anggi. Nala yang biasanya tenggelam dalam dunia tenunannya merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Ia merasa ada cerita yang ingin ia ceritakan, namun tidak tahu bagaimana cara menuliskannya. Dengan penuh rasa ingin tahu, ia melangkah masuk ke toko buku Anggi. Lonceng berbunyi ketika Nala membuka pintu toko Anggi.

       "Kriiiiinggg kriiiinggg!!"

    “Selamat datang kakak! Ada yang bisa saya bantu?” Anggi menyapa dengan senyum hangat.

   Nala tersenyum canggung. “Saya ingin mencari buku yang dapat mengajari saya menulis. Saya adalah seorang penenun kain songket, tapi akhir-akhir ini saya merasa ada cerita yang ingin saya bagi, bukan hanya sekedar lewat kain, tapi juga lewat untaian kata-kata.”

      Anggi terpesona dengan keinginan Nala. “Wah, itu luar biasa! Menulis memang seperti menenun, tapi dengan kata-kata. Saya punya beberapa buku yang mungkin bisa membantu anda.” Anggi mengulurkan tangan, “perkenalkan aku Anggi, Anggi Chayanika.” Nala menerima uluran tangan Anggi dan menyebutkan namanya, “halo, aku Nala, Nala Kirana.”

      Anggi menunjukkan beberapa buku tentang menulis dan bercerita. Nala mengambil satu buku yang judulnya 'Simpul Benang Kata dalam Sebuah Buku Cerita'. “Sepertinya ini buku yang cocok untukmu,” ucap Anggi. Mata Nala berbinar saat membaca sinopsisnya. Ia merasa buku itu adalah benang merah yang ia cari untuk menghubungkan dunia tenunnya dengan dunia tulis-menulis. Setelah membayar buku tersebut Nala pamit pulang.

      Hari-hari berlalu, Nala mulai membaca buku tersebut di sela-sela waktu menenunnya. Ia belajar bagaimana membangun karakter, menyusun plot, dan mengekspresikan emosi melalui kata-kata. Seiring berjalannya waktu, Nala menemukan bahwa menulis tidak jauh berbeda dengan menenun. Setiap kata adalah benang, setiap kalimat adalah jahitan, dan setiap paragraf adalah pola yang membentuk cerita utuh.


Penerapan SDG 2 melalui Aksi Berbagi untuk Mengurangi Kelaparan pada Masyarakat yang Membutuhkan di Sekitar Kampus

Universitas Negeri Yogyakarta, Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini melalui mata kuliah Pendidikan dan Pembangunan Berkel...